Pasang Maksimum Ancam Pesisir NTB & NTT

Pasang Maksimum Ancam Pesisir NTB & NTT. Pasang maksimum (king tide) kembali mengancam pesisir Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur sejak awal Februari 2026. Kombinasi fase purnama, perigean bulan, serta angin kencang dari arah utara menyebabkan muka air laut naik signifikan hingga 1,4–1,9 meter di atas pasang rata-rata. Banjir rob dan genangan air asin melanda puluhan desa pesisir di Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, hingga Sabu Raijua. Ribuan rumah dan fasilitas umum terendam, tambak serta lahan garam rusak, sementara akses jalan pantai di beberapa titik terputus. BMKG dan BPBD setempat telah mengeluarkan peringatan dini hingga 7 Februari, meminta warga waspada terhadap banjir pesisir dan gelombang tinggi yang menyertai. INFO CASINO

Penyebab dan Pola Pasang Maksimum: Pasang Maksimum Ancam Pesisir NTB & NTT

Fenomena pasang maksimum kali ini diperkuat oleh tiga faktor utama. Pertama, posisi bulan pada titik terdekat dengan Bumi (perigean) terjadi bersamaan dengan fase purnama di awal Februari, menghasilkan gaya tarik-menarik gravitasi yang paling kuat. Kedua, angin muson barat laut yang masih dominan mendorong massa air Laut Flores dan Laut Sawu ke arah pantai selatan dan utara NTB-NTT. Ketiga, pengaruh La Niña yang masih aktif membuat pola sirkulasi laut di Indonesia timur lebih intens, sehingga volume air yang terdorong ke pesisir meningkat.

Ketinggian pasang tertinggi tercatat di beberapa lokasi:
Pantai utara Lombok (Pemenang, Tanjung) dan pesisir barat Sumbawa mencapai 1,7–1,9 meter di atas pasang normal.
Labuan Bajo, Maumere, dan Waingapu melaporkan kenaikan 1,5–1,8 meter.
Pulau Sabu dan Rote mencatat genangan hingga 1,6 meter, terutama di kawasan dataran rendah.
Genangan air asin masuk hingga ratusan meter ke daratan di daerah yang tanahnya relatif datar, memperparah kerusakan pada infrastruktur yang sudah rapuh akibat abrasi bertahun-tahun.

Dampak terhadap Masyarakat dan Ekonomi Lokal: Pasang Maksimum Ancam Pesisir NTB & NTT

Banjir rob telah merendam ribuan rumah di pesisir NTB dan NTT. Di Lombok Utara, ratusan rumah di Desa Pemanang Barat, Gondang, dan Tanjung terendam air setinggi lutut hingga pinggang. Di Sumbawa Barat, kawasan pesisir Taliwang dan Maluk lumpuh karena genangan mencapai 80–120 cm. Di NTT, pesisir Flores Timur (Larantuka, Adonara) dan Sumba Timur (Waingapu) melaporkan kerusakan berat pada rumah panggung dan bangunan semi permanen.
Tambak udang vaname dan tambak garam menjadi korban terbesar. Di Lombok Barat dan Lombok Tengah, ribuan hektare tambak terendam air laut yang membawa lumpur, menyebabkan udang stres dan mati massal. Petani garam di Rote dan Sabu melaporkan produksi nol karena lahan kristalisasi terendam selama berhari-hari. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah hanya dalam beberapa hari.
Akses jalan pantai di beberapa segmen terputus akibat genangan dan longsor kecil yang dipicu hujan deras bersamaan dengan pasang tinggi. Pelabuhan kecil dan dermaga nelayan di Labuan Bajo, Maumere, serta Waingapu sempat tidak bisa dilayari kapal karena dermaga terendam. Beberapa sekolah pesisir terpaksa diliburkan sementara, sementara puskesmas dan posyandu di daerah terdampak kesulitan melayani pasien karena akses terganggu.
BPBD NTB dan NTT bersama TNI-Polri telah mendirikan posko siaga dan mendistribusikan bantuan berupa air bersih, makanan siap saji, serta tikar dan selimut. Evakuasi mandiri dilakukan warga di banyak desa karena sebagian besar memilih bertahan dengan menaikkan barang berharga ke tempat tinggi.

Kesimpulan

Pasang maksimum yang melanda pesisir NTB dan NTT pada awal Februari 2026 menjadi peringatan serius akan kerentanan wilayah timur Indonesia terhadap fenomena pasang tinggi yang semakin sering dan ekstrem. Dampaknya langsung terasa pada kehidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan, petambak, dan petani garam yang mata pencahariannya bergantung pada kondisi laut dan daratan yang stabil.
Meski BMKG memprediksi intensitas pasang mulai menurun setelah 7 Februari seiring pergeseran fase bulan dan melemahnya angin utara, ancaman rob periodik masih akan muncul selama musim ini. Yang terpenting saat ini adalah kesiapsiagaan warga, koordinasi cepat pemerintah daerah, serta upaya jangka panjang seperti pembangunan tanggul rob sederhana, restorasi mangrove, dan relokasi bertahap bagi pemukiman di zona paling rentan. Dengan langkah antisipasi yang tepat, dampak buruk pasang maksimum dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga masyarakat pesisir NTB dan NTT bisa kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *