New START Nuklir AS-Rusia Berakhir, Dunia Kelam. Perjanjian New START, satu-satunya kesepakatan pengendalian senjata nuklir strategis antara Amerika Serikat dan Rusia, resmi berakhir pada 5 Februari 2026. Perjanjian yang ditandatangani tahun 2010 dan diperpanjang hingga 2026 ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis masing-masing negara menjadi maksimal 1.550 unit serta jumlah rudal balistik antar benua dan pesawat pembom berat. Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, dunia kehilangan instrumen verifikasi dan pembatasan senjata nuklir terakhir antara dua negara pemilik senjata nuklir terbesar. Kedua pihak telah saling menangguhkan inspeksi sejak Februari 2022, dan hingga kini belum ada kesepakatan baru yang menggantikannya. INFO CASINO
Isi Perjanjian dan Mengapa Penting: New START Nuklir AS-Rusia Berakhir, Dunia Kelam
New START membatasi:
1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dikerahkan
700 rudal balistik antar benua, rudal balistik kapal selam, dan pesawat pembom berat yang dikerahkan
800 peluncur rudal dan pesawat pembom yang dikerahkan serta tidak dikerahkan
Perjanjian ini juga menyediakan mekanisme inspeksi rutin, pertukaran data, dan notifikasi peluncuran uji coba. Rusia menangguhkan partisipasi dalam inspeksi pada Februari 2022 dengan alasan sanksi Barat yang membatasi akses inspektur Rusia ke fasilitas AS. Amerika Serikat kemudian menghentikan inspeksi ke Rusia sebagai respons. Sejak itu, kedua negara hanya melanjutkan pertukaran data tahunan secara terbatas.
Dampak Berakhirnya New START: New START Nuklir AS-Rusia Berakhir, Dunia Kelam
Berakhirnya perjanjian ini menciptakan kekosongan pengendalian senjata nuklir strategis untuk pertama kalinya sejak tahun 1972. Tidak ada lagi batasan hukum atas jumlah hulu ledak yang dikerahkan maupun mekanisme verifikasi independen. Kedua negara saat ini memiliki sekitar 1.400–1.500 hulu ledak strategis yang dikerahkan, tapi tanpa New START, mereka bebas meningkatkan jumlah tersebut tanpa pemberitahuan atau batas.
Para analis memperkirakan Rusia dan AS bisa menambah ratusan hulu ledak baru dalam beberapa tahun mendatang, terutama jika tidak ada perjanjian pengganti. Rusia telah menyatakan akan melanjutkan moratorium sukarela atas penempatan senjata nuklir baru di luar wilayahnya, tapi tetap memperingatkan bahwa mereka akan merespons jika AS melakukan hal serupa. Amerika Serikat juga belum mengumumkan rencana ekspansi arsenal, tapi telah mempercepat modernisasi triad nuklirnya (rudal darat, kapal selam, dan pembom).
Reaksi Internasional dan Prospek ke Depan
PBB, NATO, dan Uni Eropa menyatakan keprihatinan mendalam atas berakhirnya New START. Sekjen PBB António Guterres menyebutnya sebagai “kemunduran serius bagi keamanan global”. China, yang tidak terikat perjanjian bilateral ini, menyatakan siap berdialog multilateral tentang pengendalian senjata nuklir, tapi belum ada kemajuan konkret.
Rusia dan AS sama-sama menyatakan kesiapan untuk negosiasi pengganti, tapi syarat yang diajukan berbeda jauh. Rusia ingin perjanjian baru mencakup semua negara pemilik nuklir (termasuk China, Inggris, Prancis), sementara AS lebih memprioritaskan perpanjangan bilateral terlebih dahulu. Hingga kini belum ada jadwal resmi untuk pertemuan lanjutan.
Kesimpulan
Berakhirnya New START pada 5 Februari 2026 menandai akhir era pengendalian senjata nuklir bilateral antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia. Tanpa batasan dan verifikasi, risiko perlombaan senjata nuklir baru semakin nyata, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung. Meski kedua negara menyatakan komitmen untuk dialog, jarak pandangan yang lebar membuat kesepakatan baru masih jauh di depan mata. Dunia kini berada dalam fase paling berbahaya terkait senjata nuklir strategis sejak Perang Dingin. Semoga perundingan segera membuahkan hasil, karena stabilitas global sangat bergantung pada kemauan kedua negara untuk kembali ke meja perundingan. Keamanan nuklir bukan lagi urusan dua negara saja—ini urusan seluruh umat manusia.