KSOP Ungkap Penyebab Utama dari Kapal Pinisi

KSOP Ungkap Penyebab Utama dari Kapal Pinisi. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo baru saja mengungkap penyebab utama tenggelamnya kapal wisata jenis semi pinisi di perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, pada Jumat malam, 26 Desember 2025. Kapal tersebut mengalami mati mesin sebelum dihantam gelombang tinggi tiba-tiba setinggi 2-3 meter, yang dikenal sebagai swell atau gelombang alun. Insiden ini menyebabkan tujuh penumpang berhasil dievakuasi, sementara empat wisatawan asing masih dalam pencarian tim SAR gabungan. Peristiwa ini menyoroti risiko cuaca ekstrem di kawasan wisata bahari populer seperti Labuan Bajo, di mana gelombang mendadak menjadi ancaman serius bagi pelayaran. BERITA BOLA

Penyebab Utama Menurut Investigasi KSOP: KSOP Ungkap Penyebab Utama dari Kapal Pinisi

Penyebab utama kecelakaan ini adalah kombinasi antara kerusakan teknis dan faktor alam. Kapal mengalami mati mesin saat sedang berlayar dari Pulau Kalong menuju Pulau Padar, membuatnya tak berdaya menghadapi kondisi laut. Tak lama kemudian, gelombang tinggi swell datang secara mendadak dalam waktu singkat, hanya sekitar setengah hingga satu jam. Gelombang ini bukan disebabkan angin kencang lokal, melainkan kiriman dari pusat bibit siklon tropis di sekitar wilayah tersebut. Kondisi ini menyulitkan kapal untuk bermanuver, akhirnya menyebabkan tenggelam. KSOP menekankan bahwa swell seperti ini sering tak terdeteksi dini, sehingga menjadi penyebab dominan dalam beberapa insiden serupa di perairan Komodo.

Upaya Pencarian dan Evakuasi Korban: KSOP Ungkap Penyebab Utama dari Kapal Pinisi

Tim SAR gabungan langsung bergerak cepat pasca-insiden. Pada hari pertama, tujuh orang berhasil diselamatkan, termasuk awak kapal, pemandu wisata, dan beberapa penumpang, dengan bantuan kapal lain yang kebetulan melintas. Pencarian hari kedua dan seterusnya melibatkan sekitar 40 personel dari berbagai instansi, seperti KSOP, Basarnas, Polairud, TNI AL, serta tim penyelam lokal. Mereka mengerahkan beberapa kapal patroli dan peralatan pendukung untuk menyisir area seluas mungkin. Meski gelombang tinggi sempat menghambat operasi awal, upaya terus dilanjutkan dengan fokus pada keselamatan dan menemukan korban yang hilang. Koordinasi antarlembaga ini menunjukkan respons tanggap darurat yang solid di tengah kondisi cuaca buruk.

Implikasi terhadap Keselamatan Pelayaran Wisata

Kejadian ini kembali membuka diskusi tentang keselamatan kapal wisata di Labuan Bajo, yang sering mengalami insiden serupa akibat cuaca ekstrem. Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat puluhan kecelakaan di kawasan Taman Nasional Komodo, mayoritas dipicu gelombang tinggi atau masalah teknis. KSOP dan otoritas terkait diimbau untuk memperketat pengawasan, termasuk pemeriksaan rutin mesin kapal dan pemantauan cuaca real-time. Wisatawan juga perlu lebih aware terhadap peringatan BMKG mengenai potensi gelombang hingga akhir tahun. Langkah preventif seperti ini penting untuk menjaga Labuan Bajo tetap aman sebagai destinasi unggulan, tanpa mengorbankan nyawa pengunjung.

Kesimpulan

Pengungkapan KSOP tentang penyebab utama tenggelamnya kapal pinisi ini, yakni gelombang swell tinggi disertai mati mesin, menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Insiden tragis di akhir Desember 2025 ini mengingatkan bahwa alam bahari, meski indah, punya risiko tak terduga. Dengan pencarian korban yang masih berlangsung dan evaluasi keselamatan yang diharapkan lebih ketat, semoga kejadian serupa bisa diminimalisir di masa depan. Labuan Bajo tetap potensial sebagai surga wisata, asal didukung regulasi dan kewaspadaan bersama, sehingga liburan akhir tahun tak lagi berujung duka.

BACA SELENGKAPNYA DI….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *