Banjir Masih Merendam 6 Desa di Daerah Pasuruan. Curah hujan tinggi yang berlangsung hampir 36 jam memaksa air Sungai Welang meluap ke pemukiman di enam desa tersebut. Banjir mulai terjadi Rabu dini hari dan mencapai puncak pada Rabu malam. Ketinggian air bervariasi antara 50–140 cm di titik terendah, merendam ratusan rumah, sawah, dan jalan kampung. Warga terpaksa mengungsi ke rumah saudara yang lebih tinggi atau posko darurat di balai desa. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan mulai mengevakuasi warga sejak Rabu sore, sementara pompa air dikerahkan untuk mengurangi genangan. Namun hingga Kamis siang, air belum sepenuhnya surut karena debit dari hulu masih tinggi dan saluran pembuangan tersumbat lumpur serta sampah. BERITA TERKINI
Penyebab Banjir dan Kondisi di Lapangan: Banjir Masih Merendam 6 Desa di Daerah Pasuruan
Luapan Sungai Welang menjadi penyebab utama banjir di enam desa ini. Sungai yang melintasi Kecamatan Kraton dan Rembang mengalami peningkatan debit drastis akibat hujan lebat di wilayah pegunungan hulu. Saluran irigasi sekunder yang sudah dangkal dan penuh sedimen tidak mampu menampung air tambahan, sehingga meluap ke pemukiman. Di Desa Wonokerto dan Kraton, genangan paling parah terjadi di sekitar jalan desa dan area persawahan, sementara di Ranu dan Gading air masuk hingga ke dalam rumah warga. Sumbatan sampah dan limbah rumah tangga di saluran drainase memperburuk situasi—banyak warga melaporkan bahwa sampah menumpuk di mulut saluran sejak musim kemarau lalu. Curah hujan mencapai lebih dari 250 mm dalam 48 jam di beberapa stasiun pengamatan, melebihi kapasitas normal sungai. Petugas mencatat bahwa beberapa tanggul kecil jebol di dua titik, mempercepat masuknya air ke pemukiman. Kondisi di lapangan masih sulit karena jalan kampung banyak yang putus akibat genangan dan lumpur tebal.
Dampak bagi Warga dan Upaya Evakuasi: Banjir Masih Merendam 6 Desa di Daerah Pasuruan
Ratusan rumah terendam, dengan ketinggian air hingga 1,4 meter di titik terdalam. Warga melaporkan kerusakan pada perabotan rumah tangga, motor, stok padi, dan ternak kecil seperti ayam serta kambing. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan karena sulit bergerak di genangan. Sekitar 450 jiwa dari enam desa sudah dievakuasi ke posko darurat di balai desa dan gedung sekolah setempat. BPBD mendistribusikan paket makanan siap saji, air minum, selimut, dan obat-obatan dasar sejak Rabu malam. Tim kesehatan siaga mencegah risiko penyakit seperti leptospirosis dan diare akibat air kotor. Beberapa warga memilih bertahan di rumah lantai dua atau loteng, tapi pasokan makanan mulai menipis. Aktivitas ekonomi lumpuh total—sawah terendam, pasar desa tutup, dan akses jalan utama ke kecamatan terputus. Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah, terutama pada sektor pertanian dan rumah tangga.
Penanganan Darurat dan Langkah ke Depan
Petugas gabungan terus memompa air di enam titik utama menggunakan pompa berkapasitas besar. Tim dari PU dan Dinas Pekerjaan Umum membersihkan saluran irigasi serta memperbaiki tanggul yang jebol secara darurat. Bantuan logistik dari pemerintah kabupaten dan provinsi mulai berdatangan, termasuk beras, mie instan, dan tenda pengungsi. Prakiraan cuaca menunjukkan hujan akan berkurang intensitasnya mulai Jumat, memberi peluang air surut lebih cepat. Pemerintah daerah menyatakan akan melakukan normalisasi Sungai Welang dan pembersihan saluran secara menyeluruh setelah genangan surut. Masyarakat diimbau tidak membuang sampah ke sungai atau saluran agar debit air bisa mengalir lancar. Beberapa warga mengusulkan pembuatan tanggul permanen dan sumur resapan tambahan di kawasan hulu. Camat Kraton dan Rembang menjanjikan koordinasi lebih baik dengan dinas terkait untuk mencegah banjir berulang di musim hujan mendatang.
Kesimpulan
Banjir yang masih merendam enam desa di Pasuruan menunjukkan betapa rentannya kawasan itu ketika sungai meluap dan saluran tersumbat. Meski penanganan darurat berjalan cepat, genangan yang bertahan lama tetap mengganggu kehidupan warga dan aktivitas ekonomi. Kerugian material dan dampak psikologis bagi warga cukup besar, terutama di tengah musim hujan yang masih panjang. Pembersihan sungai, normalisasi saluran, dan pengelolaan sampah yang lebih baik menjadi kunci agar banjir seperti ini tidak terus berulang. Saat ini, fokus utama adalah evakuasi korban dan pemulihan dasar. Semoga air cepat surut dan warga bisa kembali ke rumah dengan aman dalam waktu dekat.